Jumat, 07 Oktober 2011

Tertundanya Kematian

Suatu ketika, Nabi Daud a.s. duduk di suatu tempat. Di sampingnya, ada seorang pemuda saleh yang duduk dengan tenang tanpa banyak bicara. Tiba-tiba, datang Malaikat Maut yang mengucapkan salam kepada Nabi Daud. Anehnya, Malaikat Maut terus memandang pemuda itu dengan serius.

Nabi Daud berkata kepadanya, "Mengapa engkau memandangi dia?"

Malaikat Maut menjawab, "Aku diperintahkan untuk mencabut nyawanya tujuh hari lagi di tempat ini!"

Nabi Daud pun merasa iba dan kasihan kepada pemuda itu. Beliau pun berkata kepadanya, "Wahai Anak Muda, apakah engkau mempunyai istri?"

"Tidak, saya belum pernah menikah," jawabnya.

"Datanglah engkau kepada Fulan - seseorang yang sangat dihormati di kalangan Bani Israil - dan katakan kepadanya, 'Daud menyuruhmu untuk mengawinkan anakmu denganku.' Lalu, kau bawa perempuan itu malam ini juga. Bawalah bekal yang engkau perlukan dan tinggallah bersamanya. Setelah tujuh hari, temuilah aku di tempat ini."

Pemuda itu pergi dan melakukan apa yang dinasihatkan Nabi Daud kepadanya. Dia pun dinikahkan oleh orang tua si Gadis. Dia tinggal bersama istrinya selama tujuh hari. Pada hari kedelapan pernikahannya, dia menepati janjinya untukbertemu dengan Daud.

"Wahai Pemuda, bagaimana engkau melihat peristiwa itu?"

"Seumur hidupku, aku belum pernah merasakan kenikmatan dan kebahagiaan seperti yang kualami beberapa hari ini," jawabnya.

Kemudian, Nabi Daud memerintahkan pemuda itu untuk duduk di sampingnya guna menunggu kedatangan malaikat yang hendak menjemput kematiannya. Setelah cukup lama menunggu, akhirnya Nabi Daud berkata, "Pulanglah kepada keluargamu dan kembalilah ke sini untuk menemuiku di tempat ini delapan hari setelah ini."

Pemuda itu pun pergi meninggalkan tempat itu menuju rumahnya. Pada hari kedelapan, dia menemui Nabi Daud di tempat tersebut dan duduk di sampingnya. Kemudian, kembali lagi pada minggu berikutnya, dan begitu seterusnya. Setelah sekian lama, datanglah Malaikat Maut kepada Nabi Daud.

"Bukankah engkau pernah mengatakan kepadaku bahwa engkau akan mencabut nyawa anak pemuda ini dalam waktu tujuh hari ke depan?"

Malaikat itu menjawab, "Ya."

Nabi Daud berkata lagi, "Telah berlalu delapan hari, delapan hari lagi, delapan hari lagi, dan engkau belum juga mencabut nyawanya."

"Wahai Daud, sesungguhnya Allah swt merasa iba kepadanya lalu dia menunda ajalnya sampai tiga puluh tahun yang akan datang."

Pemuda dalam kisah ini adalah seseorang yang taat beribadah, ahli munajat, gemar berbuat kebaikan, dan sangat penyayang kepada keluarganya. Boleh jadi, karena amal saleh dan doa-doanyalah, Allah Swt. berkenan menunda kematian sang Pemuda hingga tiga puluh tahun lamanya.

Andai Lebih Panjang Lagi

Hari itu ada seseorang yang meninggal dunia. Seperti biasanya, jika ada sahabat meninggal dunia, Rasulullah pasti menyempatkan diri mengantarkan jenazahnya sampai ke kuburan.

Tidak cukup sampai di situ, pada saat pulangnya, Rasulullah menyempatkan diri singgah untuk menghibur dan menenangkan keluarga yang ditinggalkan supaya tetap bersabar dan tawakal menerima musbah itu. Begitupun terhadap keluarga sahabat yang satu ini.

Sesampai di rumah duka, Rasulullah bertanya kepada istri almarhum, “Tidakkah almarhum suamimu mengucapkan wasiat ataulah sesuatu sebelum ia wafat?”

Sang istri yang masih diliputi kesedihan hanya tertunduk. Isak tangis masih sesekali terdengar dari dirinya. “Aku mendengar ia mengatakan sesuatu di antara dengkur nafasnya yang tersengal. Ketika itu ia tengah menjelang ajal, ya Rasulullah.”

Rasulullah tertanya, “Apa yang dikatakannya?”

“Aku tidak tahu, ya Rasulullah. Maksudku, aku tidak mengerti apakah ucapannya itu sekadar rintihan sebelum mati, ataukah pekikan pedih karena dahsyatnya sakaratul maut. Cuma, ucapannya memang sulit dipahami lantaran merupakan kalimat yang terpotong-potong.”

“Bagaimana bunyinya?” tanya Rasulullah lagi.

Istri yang setia itu menjawab, “Suamiku mengatakan ‘Andaikata lebih panjang lagi..., Andaikata yang masih baru ..., Andaikata semuanya ...’. Hanya itulah yang tertangkap sehingga aku dan keluargaku bingung dibuatnya. Apakah perkataan-perkataan itu hanya igauan dalam keadaan tidak sadar, ataukah pesan-pesan yang tidak selesai”

Rasulullah tersenyum. Senyum Rasulullah itu membuat istri almarhum sahabat menjadi keheranan. Kemudian, terdengar Rasulullah berbicara, “Sungguh, apa yang diucapkan suamimu itu tidak keliru.” Beliau diam sejenak. “Jika kalian semua mau tahu, biarlah aku ceritakan kepada kalian agar tak lagi heran dan bingung.”

Sekarang, bukan hanya istri almarhum saja yang menghadapi Rasulullah. Semua keluarga almarhum mengerubungi Rasul akhir zaman itu. Ingin mendengar apa gerangan sebenarnya yang terjadi.

“Kisahnya begini,” Rasulullah memulai.
“Pada suatu hari, ia sedang bergegas akan ke masjid untuk melaksanakan shalat Jumat. Di tengah jalan ia berjumpa dengan dengan orang buta yang bertujuan sama—hendak pergi ke masjid pula. Si buta itu sendirian tersaruk-saruk karena tidak ada yang menuntunnya. Maka, dengan sabar dan telatennya, suamimu yang membimbingnya hingga tiba di masjid. Tatkala hendak menghembuskan nafas yang penghabisan, ia menyaksikan pahala amal shalihnya itu. Lalu ia pun berkata, ‘Andaikata lebih panjang lagi.’ Maksudnya adalah andaikata jalan ke masjid itu lebih panjang lagi, pasti pahalanya akan jauh lebih besar pula.”

Semua anggota keluarga itu sekarang mengangguk-angguk kepalanya. Mulai mengerti sebagian duduk perkara. “Terus, ucapan yang lainnya, ya Rasulullah?” tanya sang istri yang semakin penasaran saja.

Nabi menjawab, “Adapun ucapannya yang kedua dikatakannya tatkala ia melihat hasil perbuatannya yang lain. Sebab pada hari berikutnya, waktu ia pergi ke masjid pagi-pagi sekali untuk shalat Subuh, cuaca dingin sekali. Di tepi jalan ia melihat seorang lelaki tua yang tengah duduk menggigil, hampir mati kedinginan. Kebetulan suaminya membawa sebuah mantel baru, selain yang dipakainya. Maka ia pun mencopot mantelnya yang lama yang tengah dikenakannya dan diberikan kepada si lelaki tua itu. Menjelang saat-saat terakhirnya, suamimu melihat balasan amal kebajikannya itu sehingga ia pun menyesal dan berkata, ‘Coba, andaikata yang masih baru yang kuberikan kepadanya, dan bukannya mantelku yang lama yang kuberikan kepadanya, pasti pahalaku jauh lebih besar lagi.’ Itulah yang dikatakan suami selengkapnya.”

“Kemudian, ucapan yang ketiga, apa maksudnya ya Rasulullah?” tanya sang istri lagi.

Dengan penuh kesabaran, Rasulullah menjelaskan, “Ingkatkah engkau ketika pada suatu waktu suamimu datang dalam keadaan sangat lapar dan meminta disediakan makanan? Ketika itu engkau segera menghidangkan sepotong roti yang telah dicampur daging dan mentega. Namun, tatkala hendak dimakannya, tiba-tiba seorang musafir mengetuk pintu dan meminta makanan. Suamimu lantas membagi rotinya menjadi dua potong. Yang sebelah diberikannya kepada musafir itu. Dengan demikian, pada waktu suamimu akan nazak, ia menyaksikan betapa besarnya pahala dari amalnya itu. Karenanya, ia pun menyesal dan berkata, ‘Kalau aku tahu begini hasilnya, musafir itu tidak akan kuberi hanya separuh. Sebab, andaikata semuanya kuberikan kepadanya, sudah pasti pahalaku akan berlipat ganda pula.’”

Sekarang, semua anggota keluarga mengerti. Mereka tak lagi risau dengan apa yang telah terjadi kepada suami dan ayah mereka ketika akan menjelang wafatnya. Kelapangan telah ia dapatkan karena ia tidak sungkan untuk menolong dan memberi.

Kamis, 06 Oktober 2011

Sosok Manusia yang Amalannya Tersembunyi

Ada sebuah pesan menarik dari seorang ulama salaf :

“Berusahalah agar kalian lebih dikenal oleh para penghuni langit, walau tak seorangpun penduduk bumi yang mengenal kalian.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut tipe manusia seperti ini dengan sebutan Al Akhfiya‘: Manusia-Manusia Tersembunyi. Beliau juga mengatakan Allah Azza wa Jalla sangat mencintai manusia tipe ini.

Mereka tidak pernah peduli apa kata manusia tentang mereka, yang penting adalah apa kata Allah tentang mereka. Itulah sebabnya, mereka tidak pernah mengalami kegilaan akan kemahsyuran.

Dan ini adalah kisah salah satu dari mereka..

Ia hidup di masa tabi’in. Namun hingga hari ini tak satu buku sejarahpun yang dapat menyingkap identitas pria ini. Satu-satunya informasi tentangnya hanyalah bahwa ia seorang berkulit hitam dan bekerja sebagai tukang sepatu!

Shahibul hikayat adalah seorang tabi’in bernama Muhammad ibn- al-Munkadir-rahimahullah-.

Malam itu sudah terlalu malam dan gelap. Namun walaupun malam, udara terasa lebih panas dari biasanya. Tidak aneh memang, sebab hari-hari itu adalah hari-hari kemarau panjang di kota itu. Sudah setahun ini kota Madinah tidak pernah mendapatkan curahan air dari langit. Entah telah berapa kali penduduk kota itu berkumpul untuk melakukan shalat istisqa’ demi meminta hujan. Namun hingga malam itu, tak setetes hujanpun yang turun menghampiri mereka.
Dan malam itu, seperti kebiasaannya bila sepertiga akhir malam menjelang, Muhammad ibn al-Munkadir meninggalkan rumahnya dan bergegas ke Masjid Rasulullah. Usai mengerjakan shalatnya malam itu, Ibn al-Munkadir bersandar ke salah satu tiang masjid.

Tiba-tiba ia melihat sebuah sosok bergerak tidak jauh dari tempatnya bersandar. Ia mencoba untuk mengetahui siapa sosok itu.
Agak sulit sebab malam telah begitu gelap. Dengan agak susah payah ia melihat seorang pria berkulit hitam agak kecoklatan. Tapi ia sama sekali tidak mengenalnya. Pria itu membentangkan sebuah kain di lantai masjid itu. Dan pria itu sepertinya benar-benar merasa hanya ia sendiri dalam masjid itu. Ia tidak menyadari kehadiran ibn al-Munkadir tidak jauh dari tempatnya berdiri.

Ia berdiri mengerjakan shalat dua raka’at. Usai itu, ia duduk bersimpuh. Begitu khusyu’ ia bermunajat. Dan dalam munajat itu, ia mengatakan, “Duhai Tuhanku, penduduk negeri Haram-Mu ini telah bermunajat dan memohon hujan pada-Mu namun Engkau tidak kunjung mengaruniakannya pada mereka. Duhai Tuhanku, sungguh aku mohon pada-Mu curahkanlah hujan itu untuk mereka.”

Ibn al-Munkadir yang mendengar munajat itu agak sedikit mencibir. “Dia pikir dirinya siapa mengatakan seperti itu,” katanya dalam hati. “Orang-orang shaleh seantero Madinah telah keluar untuk berdoa meminta hujan, namun tak kunjung dikabulkan. Lalu tiba-tiba, orang ini ingin berdoa pula…” gumamnya.
Namun sungguh di luar dugaan , belum lagi pria hitam itu menurunkan kedua tangannya, tiba-tiba saja suara guntur bergemuruh dari langit. Tetesan-tetesan air hujan menetes ke bumi. Sudah lama tidak begitu. Tak terkira betapa gembiranya pria itu. Segala pujian dan sanjungan ia ucapkan kepada Allah Ta’ala.
Namun tidak lama kemudian ia berkata dengan penuh ketawadhu’an, “Duhai Tuhanku, siapakah aku ini? Siapakah gerangan aku ini hingga Engkau berkenan mengabulkan doaku?.”

Ibn al-Munkadir hanya tertegun di tempatnya memandang pria itu. Tidak lama sesudah itu, pria tersebut bangkit kembali dan melanjutkan raka’at-raka’atnya. Hingga ketika saat subuh menjelang, sebelum kaum muslimin lainnya berdatangan, ia segera menyelesaikan witirnya. Dan ketika shalat subuh ditegakkan, ia masuk ke dalam shaf seolah-olah ia baru saja tiba di masjid itu.

Usai mengerjakan shalat subuh, pria itu bergegas keluar meninggalkan masjid Rasulullah. Jalan-jalan kota Madinah subuh itu digenangi air. Pria itu berjalan cepat sambil mengangkat kain bajunya. Menghilang… Ibn al-Munkadir yang berusaha mengikutinya kehilangan jejak. Ia benar-benar tidak tahu kemana pria hitam itu pergi.

Dan malam kembali merangkak semakin jauh. Malam ini, Muhammad ibn al-Munkadir kembali mendatangi masjid Nabawi. Dan seperti malam kemarin, ia kembali melihat pria hitam itu. Persis seperti kemarin. Ia mengerjakan shalat malamnya hingga subuh menjelang. Dan ketika shalat ditegakkan, ia masuk ke dalam shaf seperti orang yang baru saja tiba di masjid itu. Dan ibn al-Munkadir mengikutinya dari belakang. Ia ingin tahu siapa sebenarnya pria itu. Pria itu menuju ke sebuah lorong dan setibanya di depan sebuah rumah ia masuk kedalamnya. “Hmm, rupanya di situ pria ini tinggal. Baiklah sebentar aku akan mengunjunginya.”

Matahari telah naik sepenggalan. Usai menyelesaikan shalat Dhuha-nya, ibn al-Munkadir pun bergegas mendatangi rumah pria itu. Ternyata ia sedang sibuk mengerjakan sebuah sepatu. Begitu ia melihat ibn al-Munkadir, ia segera mengenalinya. “Marhaban wahai Abu ‘Abdullah, begitulah ibn al-Munkadir dipanggil! Adakah yang bisa kubantu? Mungkin engkau ingin memesan sebuah alas kaki?” ujar pria itu menyambut kedatangan ibn al-Munkadir.

Namun ibn al-Munkadir justru menanyakan hal yang lain. “Bukankah engkau yang bersamaku di masjid kemarin malam itu?”.

Dan tanpa diduga, wajah pria itu nampak sangat marah. Dengan nada suara yang tinggi ia berkata, “Apa urusanmu dengan itu semua, wahai ibn al-Munkadir???!.

Ini adalah malam ketiga sejak peristiwa itu. Seperti malam-malam sebelumnya, malam itu ibn al-Munkadir berjalan menuju masjid Rasullullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Satu hal yang agak berbeda malam itu. Di hatinya ada harapan yang kuat untuk melihat pria tukang sepatu itu. Setibanya di masjid dan mengerjakan shalat seperti biasanya, ia bersandar sambil berharap pria itu kembali terlihat di depan matanya.

Namun malam semakin malam, namun pria yang ditunggu-tunggu tidak kunjung kelihatan. Ibn al-Munkadir tersadar. Ia telah melakukan suatu kesalahan. “Inna lillah! Apakah yang telah kulakukan???” itulah gumamnya saat menyadari kesalahan itu.

Dan usai shalat subuh, ia segera meninggalkan masjid itu dan mendatangi rumah sang tukang sepatu. Namun yang ditemukan hanya pintu rumah yang terbuka dan tidak ada lagi pria itu. Penghuni rumah itu berkata, “Wahai Abu Abdullah! Apa yang telah terjadi antara engkau dengan dia?”.

“Apa yang telah terjadi?” tanya ibn al-Munakdir. Ketika engkau keluar dari sini kemarin itu, ia segera mengumpulkan semua barangnya hingga tidak satu pun yang tersisa. Lalu ia pergi dan kami tidak tahu kemana ia pergi hingga kini, jelas penghuni rumah itu. Dan sejak hari itu, ibn al-Munkadir mengelilingi semua rumah yang ia ketahui di kota Madinah. Namun sia-sia belaka. Pencariannya tidak pernah membuahkan hasil.

Dan hingga kini di abad 14 Hijriyah ini, kita pun tidak pernah tahu siapa pria tukang sepatu itu. Jejak-jejaknya yang terhapus oleh hembusan angin sejarah seolah bergumam, “Biarlah, Hanya Allah Yang Mengenalku…”

Sumber : Buku “Kerinduan Seorang Mujahid” oleh Ustadz Muhammad Ihsan Zainuddin, Lc. M.Si (Abul Miqdad Al Madany)

ADA CINTA DI MASJIDKU

Ternyata sudah cukup lama raga ini kubawa mengembara ke tanah seberang. Telah tiga tahun lebih dan cukup untuk merubah seorang yang labil seperti aku. Harus aku akui banyak hal baru yang melekat pada diriku dan kadang menjadi kejutan untuk keluarga dan sahabatku. Tapi, Insya Allah semua positif.

Hari Raya iedul Fitri yang ke-empat semenjak Allah mengaruniakan aku melanjutkan kuliah di Tanah Bugis. Seperti biasa aku belum sanggup bolos untuk tidak berlebaran bersama keluarga besarku. Do’a mereka cukup kuat untuk mengikat hatiku.

Ada banyak hal yang tak mudah terhapus dari fikiranku tentang indahnya Ramadhan di kampung halaman, salah satunya adalah saat itu...

Usai sholat maghrib itu,
Seorang gadis kecil berjilbab merah jambu, dengan baju serasi yang juga berwarna indah.

Mengendap-ngendap, menyusup melewati batas sholat laki-laki dan wanita
Mata bolanya lucu mengganggu syaraf geli di hatiku
Doapun segera kuakhirkan, melihat apa yang si lucu ini rencanakan ...

Kepalanya bergerak lucu, mencari-cari sesuatu di luasnya ruang masjid
Mimik wajahnya menjadi semakin cerah, ketika sesuatu itu ternyata ditemukannya di salah satu sudut masjid
Langkahnya diayun pelan-pelan, menambah lucu wajahnya
Mengendap-ngendap, jilbabnya juga berayun dengan ritme jenaka
Senyumku semakin mengembang ..., bertanya-tanya ...

Sedetik, dua detik, tiga detik ...
"Papaaaaah ..."
Gadis kecil itu melompat memeluk sosok laki-laki yang sedang tidur-tiduran di lantai masjid.
Sang ayah sejenak kaget,
Tapi lalu menyambut hangat tubuh mungil itu dalam pelukannya.
Dan tawa keduanya pun membelah keheningan petang itu ...
Dalam hangat kasih sayang di akhir Ramadhan ...

Ahh, Robb, Bahagianya...aku iri ....

Wallahu A'lam

Kisah Ini Membuatku Menghapus Sosok Pangeran Kaya

Sore itu, menunggu kedatangan teman yang akan menjemputku di masjid ini seusai ashar.. seorang akhwat datang, tersenyum dan duduk disampingku, mengucapkan salam, sambil berkenalan dan sampai pula pada pertanyaan itu. “anty sudah menikah?”. “Belum mbak”, jawabku. Kemudian akhwat itu .bertanya lagi “kenapa?” hanya bisa ku jawab dengan senyuman.. ingin ku jawab karena masih kuliah, tapi rasanya itu bukan alasan.

“mbak menunggu siapa?” aku mencoba bertanya. “nunggu suami” jawabnya. Aku melihat kesamping kirinya, sebuah tas laptop dan sebuah tas besar lagi yang tak bisa kutebak apa isinya. Dalam hati bertanya- tanya, dari mana mbak ini? Sepertinya wanita karir. Akhirnya kuberanikan juga untuk bertanya “mbak kerja dimana?”, ntahlah keyakinan apa yg meyakiniku bahwa mbak ini seorang pekerja, padahal setahuku, akhwat2 seperti ini kebanyakan hanya mengabdi sebagai ibu rumah tangga.

“Alhamdulillah 2 jam yang lalu saya resmi tidak bekerja lagi” , jawabnya dengan wajah yang aneh menurutku, wajah yang bersinar dengan ketulusan hati.

“kenapa?” tanyaku lagi.

Dia hanya tersenyum dan menjawab “karena inilah cara satu cara yang bisa membuat saya lebih hormat pada suami” jawabnya tegas.

Aku berfikir sejenak, apa hubungannya? Heran. Lagi-lagi dia hanya tersenyum.

Ukhty, boleh saya cerita sedikit? Dan saya berharap ini bisa menjadi pelajaran berharga buat kita para wanita yang Insya Allah akan didatangi oleh ikhwan yang sangat mencintai akhirat.

“saya bekerja di kantor, mungkin tak perlu saya sebutkan nama kantornya. Gaji saya 7juta/bulan. Suami saya bekerja sebagai penjual roti bakar di pagi hari, es cendol di siang hari. Kami menikah baru 3 bulan, dan kemarinlah untuk pertama kalinya saya menangis karena merasa durhaka padanya. Waktu itu jam 7 malam, suami baru menjemput saya dari kantor, hari ini lembur, biasanya sore jam 3 sudah pulang. Saya capek sekali ukhty. Saat itu juga suami masuk angin dan kepalanya pusing. Dan parahnya saya juga lagi pusing. Suami minta diambilkan air minum, tapi saya malah berkata, “abi, umi pusing nih, ambil sendirilah”.

Pusing membuat saya tertidur hingga lupa sholat isya. Jam 23.30 saya terbangun dan cepat-cepat sholat, Alhamdulillah pusing pun telah hilang. Beranjak dari sajadah, saya melihat suami saya tidur dengan pulasnya. Menuju ke dapur, saya liat semua piring sudah bersih tercuci. Siapa lagi yang bukan mencucinya kalo bukan suami saya? Terlihat lagi semua baju kotor telah di cuci. Astagfirullah, kenapa abi mengerjakan semua ini? Bukankah abi juga pusing tadi malam? Saya segera masuk lagi ke kamar, berharap abi sadar dan mau menjelaskannya, tapi rasanya abi terlalu lelah, hingga tak sadar juga. Rasa iba mulai memenuhi jiwa saya, saya pegang wajah suami saya itu, ya Allah panas sekali pipinya, keningnya, Masya Allah, abi deman, tinggi sekali panasnya. Saya teringat atas perkataan terakhir saya pada suami tadi. Hanya disuruh mengambilkan air minum saja, saya membantahnya. Air mata ini menetes, betapa selama ini saya terlalu sibuk diluar rumah, tidak memperhatikan hak suami saya.”

Subhanallah, aku melihat mbak ini cerita dengan semangatnya, membuat hati ini merinding. Dan kulihat juga ada tetesan air mata yg di usapnya.

==========

“anty tau berapa gaji suami saya? Sangat berbeda jauh dengan gaji saya. Sekitar 600-700rb/bulan. 10x lipat dari gaji saya. Dan malam itu saya benar-benar merasa durhaka pada suami saya. Dengan gaji yang saya miliki, saya merasa tak perlu meminta nafkah pada suami, meskipun suami selalu memberikan hasil jualannya itu pada saya, dan setiap kali memberikan hasil jualannya , ia selalu berkata “umi,,ini ada titipan rezeki dari Allah. Di ambil ya. Buat keperluan kita. Dan tidak banyak jumlahnya, mudah2an umi ridho”, begitu katanya.

Kenapa baru sekarang saya merasakan dalamnya kata-kata itu. Betapa harta ini membuat saya sombong pada nafkah yang diberikan suami saya”, lanjutnya

“Alhamdulillah saya sekarang memutuskan untuk berhenti bekerja, mudah-mudahan dengan jalan ini, saya lebih bisa menghargai nafkah yang diberikan suami. Wanita itu begitu susah menjaga harta, dan karena harta juga wanita sering lupa kodratnya, dan gampang menyepelekan suami.” Lanjutnya lagi, tak memberikan kesempatan bagiku untuk berbicara.

“beberapa hari yang lalu, saya berkunjung ke rumah orang tua, dan menceritakan niat saya ini. Saya sedih, karena orang tua dan saudara-saudara saya tidak ada yang mendukung niat saya untuk berhenti berkerja. Malah mereka membanding-bandingkan pekerjaan suami saya dengan orang lain.”

Aku masih terdiam, bisu, mendengar keluh kesahnya. Subhanallah, apa aku bisa seperti dia? Menerima sosok pangeran apa adanya, bahkan rela meninggalkan pekerjaan.

==========

“kak, kita itu harus memikirkan masa depan. Kita kerja juga untuk anak-anak kita kak. Biaya hidup sekarang ini besar. Begitu banyak orang yang butuh pekerjaan. Nah kakak malah pengen berhenti kerja. Suami kakak pun penghasilannya kurang. Mending kalo suami kakak pengusaha kaya, bolehlah kita santai-santai aja di rumah. Salah kakak juga sih, kalo ma jadi ibu rumah tangga, seharusnya nikah sama yang kaya. Sama dokter muda itu yang berniat melamar kakak duluan sebelum sama yang ini. Tapi kakak lebih milih nikah sama orang yang belum jelas pekerjaannya.

Dari 4 orang anak bapak, Cuma suami kakak yang tidak punya penghasilan tetap dan yang paling buat kami kesal, sepertinya suami kakak itu lebih suka hidup seperti ini, ditawarin kerja di bank oleh saudara sendiri yang ingin membantupun tak mau, sampai heran aku, apa maunya suami kakak itu”. Ceritanya kembali, menceritakan ucapan adik perempuannya saat dimintai pendapat.

“anty tau, saya hanya bisa nangis saat itu. Saya menangis bukan Karena apa yang dikatakan adik saya itu benar, bukan karena itu. Tapi saya menangis karena imam saya dipandang rendah olehnya. Bagaimana mungkin dia meremehkan setiap tetes keringat suami saya, padahal dengan tetesan keringat itu, Allah memandangnya mulia. Bagaimana mungkin dia menghina orang yang senantiasa membangunkan saya untuk sujud dimalam hari. Bagaimana mungkin dia menghina orang yang dengan kata-kata lembutnya selalu menenangkan hati saya. Bagaimana mungkin dia menghina orang yang berani datang pada orang tua saya untuk melamar saya, padahal saat itu orang tersebut belum mempunyai pekerjaan. Baigaimana mungkin seseorang yang begitu saya muliakan, ternyata begitu rendah dihadapannya hanya karena sebuah pekerjaan.

Saya memutuskan berhenti bekerja, karena tak ingin melihat orang membanding-bandingkan gaji saya dengan gaji suami saya. Saya memutuskan berhenti bekerja juga untuk menghargai nafkah yang diberikan suami saya. Saya juga memutuskan berhenti bekerja untuk memenuhi hak-hak suami saya. Semoga saya tak lagi membantah perintah suami. Semoga saya juga ridho atas besarnya nafkah itu. Saya bangga ukhti dengan pekerjaan suami saya, sangat bangga, bahkan begitu menghormati pekerjaannya, karena tak semua orang punya keberanian dengan pekerjaan itu. Kebanyakan orang lebih memilih jadi pengangguran dari pada melakukan pekerjaan yang seperti itu. Tapi lihatlah suami saya, tak ada rasa malu baginya untuk menafkahi istri dengan nafkah yang halal. Itulah yang membuat saya begitu bangga pada suami saya.

======

Semoga jika anty mendapatkan suami seperti saya, anty tak perlu malu untuk menceritakannya pekerjaan suami anty pada orang lain. Bukan masalah pekerjaannya ukhty, tapi masalah halalnya, berkahnya, dan kita memohon pada Allah, semoga Allah menjauhkan suami kita dari rizki yang haram”. Ucapnya terakhir, sambil tersenyum manis padaku.

Mengambil tas laptopnya,, bergegas ingin meninggalkannku. Kulihat dari kejauhan seorang ikhwan dengan menggunakan sepeda motor butut mendekat ke arah kami, wajahnya ditutupi kaca helm, meskipun tak ada niatku menatap mukanya. Sambil mengucapkan salam, meninggalkannku. Wajah itu tenang sekali, wajah seorang istri yang begitu ridho.

Ya Allah….

Sekarang giliran aku yang menangis. Hari ini aku dapat pelajaran paling baik dalam hidupku.

Pelajaran yang membuatku menghapus sosok pangeran kaya yang ada dalam benakku..

Subhanallah..
sumber: http://keepfight.wordpress.com

Selasa, 10 Mei 2011

"Wanita Dengan Mahar Termahal Di Dunia"


Berlomba-lomba dengan tingginya mahar (mas kawin) telah menjadi hal biasa dan banyak peminat. Banyak orang tua menjual putrinya kepada seseorang atas nama pernikah. Pesta pernikahan telah menjadi sarana pemborosan dan kemubadziran luar biasa.

Berikut kisah yang membuat kening berkerut seakan tak percaya bahwa hal ini benar-benar terjadi. Disuatu pesta pernikahan, diletakkan koin emas dalam gelas-gelas yang berisi minuman, kemudian diumumkan kepada khalayak undangan wanita. Para undangan pun minum dan minum. Merekla minum bukan karena haus, tetapi untuk memproleh koin emas yang telah diumumkan oleh yang punya hajat.

Bayangkan pemandangan itu ukhti muslimah , bagaimana mereka minum dengan semangat dan cepat seakan berlomba menghabiskan munuman dalam gelas tersebut, siapa tahu dialah yang beruntung. Inilah pemandangan yang sangat menggelikan seolah mereka melihat tontonan komedi yang lucu. Belum lagi sisa makanan yang melimpah, saking banyaknya sisa makanan tersebut diangkut dengan perahu kemudian dibuang ke laut.

Hal ini terjadi dan akan terus menerus terjadi, jika kita tidak menolongnya dan melarang sipemboros terhadap nikmat Allah Azza Wajalla.

Ukhti yang mulia, saya melihatmu telah menanti dan ingin segera mengetahui siapa pemilik mahar termahal di dunia ini. Kamu punya hak untuk itu. Inilah keteladanan dengan penuh berkah dari Allah Swt.

Alkisah, suami Ar-Rumaidha binti Milhan yang berjuluk Ummu Sulaim wafat, setelah menyelesaikan masa iddahnya… datanglah Yazid bin Sahal yang berjuluk Abu Thalhah untuk melamar, tetapi Ummu Sulaiman menolak, mengapa? padahal dia adalah penunggang kuda Bani Najjar yang hebat, salah seorang pemanah ulung kota Yatsrib. Apakah kejantanannya masih kurang? Ataukah dia buruk rupa? Atau apa?

Ukhti yang mulia, penyebabnya adalah dia kafir. Sementara dia mengira bahwa Ummu Sulaim menginginkan emas dan perak. Dia bertanya, "apakah engkau menginginkan emas dan perak?" Dia menjawab dengan jawaban seorang wanita yang bangga atas agamanya.

Dia berkata, "tidak. Akan tetapi, wahai Abu Thalhah, tolong saksikan dan Allah beserta Rasul-Nya juga menjadi saksi, bahwa jika engkau masuk islam, niscaya aku akan menerimamu sebagai suami tanpa emas dan perak. Cukuplah islammu itu sebagai mahar untukku."

Setelah dialog singkat, dia berkata, "Siapa yang menunjukkanku kepada islam?" Ummu Sulaim menjawab, "Sayalah orangnya." Dia bertanya, "Caranya?". Dia berkata, "Ucapkan Kalimatul Haq. Engkau bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan bahwa Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Rasulullah. Lalu pulanglah, hancurkan berhalamu dan buanglah!”

Kebahagiaan terpancar di wajah Abu Thalhah. Dia berucap :

Asyhadu Allah Ilaha Illallah wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah

Abu Thalhah telah masuk Islam. Dia membuang kegelapan dan kemusyrikan. Dia masuk ke dalam cahaya iman.

'Islam' adalah mahar termahal yang diraih seorang wanita. Dialah Ummu Sulaim. Adakah mahar yang lebih mahal dari itu? Akan tetapi, apakah cerita berhenti pada Islamnya Abu Thalhah? Tidak, saudaraku yang mulia. Kamu tidak mengenal siapa Abu Thalhah ini. Apa gebrakan dan manuvernya? Dia ikut ambil bagian dalam menjunjung derajat Rabbani ini.

Abu Thalhah termasuk orang orang yang teguh bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada saat yang tersulit. Hal ini terjadi di putaran akhir perang Uhud ketika orang- orang berlari mundur dari sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang tertinggal di sisinya hanya sebagian sahabat.

Dalam situasi seperti inilah keteguhan orang orang besar terukur. Salah satunya adalah Abu Thalhah. Dia melindungi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wajahnya menghadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sementara punggungnya sebagai perisai hidup melawan kaum musyrikin.

Orang orang musyrik menghujani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan panah mereka. Abu Thalhah menyambutnya dengan punggungnya. Demi menjaga keselamatan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga sebagian ulama sejarah mengatakan, "Punggung Abu Thalhah seperti Trenggiling, karena banyaknya anak panah yang menancap di punggung itu."

Jangan heran, ukhti muslimah, badan mereka lebih kuat dari badan kita, ditambah kekuatan iman dan aqidah mereka yang kokoh. Sikap ini cukuplah bagi Ummu Sulaim, karena dengan karunia Allah dialah yang mencetak seorang laki laki sejati di tempat itu. Juga kebanggaan lain, ucapan kaum muslimin tentangnya, "Kami tidak mendengar sekalipun mahar yang lebih mulia dari mahar Ummu Sulaim."

Kehormatan lain adalah seluruh kebaikan yang dilakukan Abu Thalhah. Ummu Sulaim memperoleh bagian pahalanya, tidak berkurang sedikitpun. Demi Rabb Ka’bah, pandangan yang jauh melampaui emas dan perak. Dia bertolak dengan pikirannya mencari alam akhirat. Semoga berkah Allah dilimpahkan kepada Ummu Sulaim, pemilik mahar termahal di dunia. Sekarang siapakah saudariku yang menyamai atau paling tidak mendekati Ummu Sulaim?. Tandingannya adalah menyiapkan putranya menjadi da'I kepada Dienul Islam. (Disarikan dari buku 4 Wanita Terbaik Dunia Akhirat).-Abu Umar-

Minggu, 24 Januari 2010

Arelis, a Long Island Girl

Arelis lahir dari seorang Katolik keturunan Puerto Rico. Ayahnya Yahudi asal Polandia. Selama Ramadan, Arelis melakukan puasa sepenuhnya. Kini dia merupakan Muslimah yang taat

Dua bulan lalu, gadis murah senyum itu bergabung dengan the Islamic Forum for non/new Muslims di Islamic Cultural Center, New York. Datang sendiri tanpa ditemani oleh seorang Muslim, seperti lazimnya non Muslim yang datang pertama kali ke Forum tersebut. Rupanya Arelis telah kenal dengan beberapa peserta aktif Forum tersebut, khususnya Sr. Shinoa, yang telah memeluk Islam sekitar 4 tahun lalu. Shinoalah yang kemudian mengajaknya untuk ikut dalam diskusi yang dikoordinir oleh Islamic Center of New York itu.

Arelis memang cukup unik. Ibunya seorang Katolik keturunan Puerto Rico, sementara ayahnya adalah seorang Yahudi asal Polandia. Namun menurutnya, ayahnya tidak lagi mengaku Yahudi, dan malah sering mengikuti ibunya ke gereja. Rupanya keimanan katolik ibinya yang Hispanic itu lebih mendalam ketimbang keyahudian ayahnya.

"Saya sejak kecil diajar oleh ibu untuk taat beragama. Tapi keimanan saya terhadap ajaran Katolik semakin menipis seiring kedewasaan saya dalam berfikir, " aku Arelis dalam sebuah diskusi. Bahkan menurutnya, uatu ketika dia lebih tertarik untuk mempraktekkan ajaran Budhisme, dengan praktek-praktek meditasi sambiul latihan Yoga.

Maklum memang, agama Budha memang tumbuh pesat di Amerika seiring semakin populernya Dalai Lama. Arelis, sebagai anak yang tumbuh dalam keluarga yang cukup mapan, juga mengikuti banyak kegiatan-kegiatan yang trendi di kalangan celebritis.

Hampir sebulan lamanya Arelis bergabung dengan Islamic Forum. Hampir tidak pernah terlintas pertanyaan, apalagi yang kritis dari gadis ini.

Hingga akhir September lalu, the Islamic Circle of North America (ICNA) New York menggelar "Annual Conference on the Holy Qur'an" di York College of New York. Diam-diam rupanya Arelis datang mengikuti acara tersebut. Acara perhelatan akbar itu, rupanya telah mengantarkan Arelis menjadi Muslimah yang sejati.

"Saya bangga karena ALLAH menggaet saya ke dalam Islam dibimbing oleh seorang mantan Pendeta juga.” Pendeta itu tidak lain adalah Sheikh Yusuf Estes, mantan Pendeta di Texas yang saat ini menjadi da'i terkenal di Amerika Serikat. Kebetulan beliau adalah salah seorang pembicara dalam Konferensi ICNA itu.

Alhamdulillah, saya juga terkejut ketika surat kabar mingguan Muslims Weekly menyebutkan kalau dalam konferensi itu ada gadis muda dari Long Island memeluk Islam.

Apalagi setelah melihat salah satu foto di sudut surat kabar tersebut, perpajang dengan jelas wajah Arelis. Saya bersyukur bahwa salah seorang binaan saya selama ini kembali ditunjuki oleh Yang Maha Rahman.

Selama Ramadan Arelis melakukan puasa sepenuhnya. Malah seringkali dibangunkan oleh ibunya untuk makan sahur sambil diketawain karena makan sambil mengantuk. "Saya sering terlambat sampai di rumah setelah shalat tarawih, sehingga biasanya terlupa bangun. Untung ibu saya biasanya membangunkan, tapi kemudian mengetawai saya karena melihat saya makan sambil terantuk-antuk" kata Arelis di saat dilakukan Halal bihalal di rumah saya seminggu setelah lebaran.

Kini Arelis yang bekerja pada sebuah perusahaan accountant itu telah menjalani Islam secara baik dan serius. Malah setiap berangkat bekerja kerudungnya selalu terpasang rapi lengkap dengan pakaian Muslimah. "Doakan semoga saya tetap istiqamah, " pintanya.

Sabtu lalu Arelis datang ke Islamic Center dengan berkeringat, karena rupanya khawatir ketinggalan kelas sehingga dia perlu berlari-lari dari stasiun kereta bawah tanah (subway).

Semoga Allah menguatkan dan memudahkan jalanmu, Arelis. Semoga engkau hadir sebagai "sinar" di tengah-tengah masyarakat Amerika.


Hijrah, dari Kejahilan Menuju Ilmu


Kita telah memasuki tahun baru Hijriah 1431. Setiap memasuki bulan Muharram kaum Muslimin selalu mengenang perjalanan hijrah yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam beserta para sahabatnya dari Mekah ke Madinah. Komunitas Muslim di Mekah ketika itu berada dalam keadaan tertindas dan terdzalimi, sehingga mereka tidak memiliki pilihan lain selain bermigrasi ke tempat yang baru, yaitu Madinah. Rasulullah sendiri berangkat dari Mekah bersama Abu Bakar al-Shiddiq di malam hari pada akhir bulan Safar tahun pertama Hijriah. Keduanya bersembunyi di gua Tsaur di Selatan Mekah selama tiga hari hingga tanggal 1 Rabiul Awwal. Setelah itu keduanya berangkat menuju Madinah hingga tiba di Quba (di Selatan Madinah) pada hari Senin, 8 Rabiul Awwal. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam membangun sebuah masjid di Quba’ dan menetap di wilayah tersebut selama empat hari. Barulah setelah itu beliau masuk ke Madinah dengan disambut oleh masyarakat kota tersebut. Ada banyak pelajaran yang terdapat di dalam kisah hijrah. Tulisan ini akan membahas beberapa hal penting terkait dengan fenomena hijrah.

Hijrah secara bahasa berarti perpindahan atau migrasi dari satu tempat ke tempat yang lain. Fenomena migrasi sebetulnya merupakan fenomena yang sangat tua dalam sejarah umat manusia. Sejak awal peradabannya selalu kita dapati sekelompok manusia yang melakukan perpindahan dari satu tempat ke tempat yang lain. Motif perpindahan manusia ini sangat beragam. Banyak orang yang memutuskan untuk bermigrasi karena dorongan ekonomi. Pada zaman dulu mereka berpindah dari satu wilayah yang kurang subur ke wilayah yang lebih subur. Pada masa-masa berikutnya, hingga sekarang ini, manusia berpindah dari satu negeri yang lemah pengelolaan ekonominya ke negara yang lebih menjanjikan secara ekonomi. Orang-orang China yang berpindah dan menetap di banyak negeri di dunia, juga mewakili motif ini.

Sekelompok manusia lainnya bermigrasi, atau terpaksa pindah, karena alasan-alasan politik. Kekaisaran Romawi kuno terkadang memindahkan suku-suku barbar tertentu ke tempat yang jauh dari pusat kekuasaan agar mereka tidak menjadi gangguan bagi pemerintah. Persoalan politik juga yang mendorong orang-orang Yahudi berdiaspora ke berbagai belahan dunia setelah al-Quds (Yerusalem) ditaklukkan oleh bangsa Romawi pada tahun 70-an Masehi. Pada masa sekarang ini kita mendapati sekelompok orang yang bermigrasi dalam rangka mencari suaka politik, seperti kaum komunis Indonesia yang menetap di BelAnda pasca gagalnya revolusi yang mereka lakukan pada tahun 1965.

Persoalan sosial, terutama konflik horizontal yang terjadi di antara suku-suku bangsa juga bisa menjadi motif migrasi. Inilah sebagian alasan mengapa, misalnya, suku-suku Bani Kahlan di Yaman melakukan migrasi ke Utara. Konflik mereka dengan Bani Himyar menjadi salah satu penyebabnya. Salah satu anggota Bani Kahlan, yaitu Tsa’labah bin Amr, berpindah ke Hijaz dan belakangan menetap di Yastrib (yang pada zaman Nabi berganti nama menjadi Madinah). Keturunan dari cucu-cucu Tsa’labah inilah, yaitu Bani Aus dan Khazraj, yang nantinya menyambut Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam dan para Muhajirin untuk tinggal di kota mereka.

Terkadang migrasi juga didorong oleh terjadinya bencana alam. Pada tahun 920-an Masehi kerajaan Mataram Kuno di bawah Mpu Sindok memindahkan pusat pemerintahannya dari Jawa Tengah ke Jawa Timur, kemungkinan besar dipicu oleh erupsi Gunung Merapi. Perpindahan pusat pemerintahan ini tentu saja diikuti oleh perpindahan masyarakat ke pusat pemerintahan yang baru. Pecahnya bendungan Ma’rib di Yaman pada tahun 450-451 Masehi merupakan contoh lain. Bencana tersebut menyebabkan kemunduran Yaman dan mendorong suku-suku yang ada di sana bercerai-berai dan berpindah tempat.

Terlalu banyak contoh untuk disebutkan disini. Yang jelas, banyak manusia telah melakukan migrasi pada berbagai kurun sejarah yang mereka lalui. Manusia telah ‘bergerak’ sejak permulaan eksistensinya sebagaimana bergeraknya tanah yang mereka pijak (lempeng benua).

Di samping motif-motif yang telah diterangkan di atas, ada segolongan manusia yang bermigrasi dengan motif berbeda. Mereka tidak berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain melainkan dengan dilAndasi iman kepada Allah. Mereka menjadikan Allah dan Rasul-Nya sebagai alasan utama dibalik perpindahan yang mereka lakukan. Inilah yang terjadi pada para Nabi dan orang-orang shalih sepanjang sejarah. Sebagian Nabi melakukan migrasi bersama para pengikutnya setelah penentangan kaum di tempat tinggal mereka memuncak dan Allah memutuskan untuk menghukum mereka. Kita juga mengetahui bagaimana Nabi Ibrahim ’alaihis salam memindahkan istri dan anaknya ke lembah Mekah yang kemudian mengawali sejarah kota tersebut. Kita juga membaca kisah Nabi Yusuf ’alaihis salam yang mengajak ayah dan saudara-saudaranya untuk bermigrasi ke Mesir. Lalu beberapa abad kemudian, ketika tekanan dari rezim Fir’aun yang baru telah menyebabkan Bani Israil jatuh dalam penindasan, Nabi Musa ’alaihis salam muncul dan memperjuangkan pemindahan umatnya dari Mesir ke Palestina.

Migrasi telah dilakukan baik oleh para Nabi dan orang-orang shalih maupun oleh kelompok masyarakat lainnya. Yang membedakan adalah motif utama mereka. Nabi shallallahu ’alaihi wasallam pernah bersabda tentang orang yang berhijrah dari Mekah ke Madinah karena perempuan yang disukainya. ”Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya .... Barangsiapa yang hijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu karena Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrah karena kesenangan dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Dua orang yang sama-sama bermigrasi belum tentu memiliki niat dan tujuan yang sama. Hasil yang akan diperoleh keduanya juga tentu akan berbeda.

Dari fisik menuju ilmu

Terlepas dari motif yang telah dijelaskan di atas, fenomena migrasi memiliki penjelasan lain yang juga menarik. Orang-orang yang bermigrasi, bagaimanapun juga, biasanya terpaksa meninggalkan keadaan yang cukup nyaman kepada keadaan yang kurang atau bahkan tidak nyaman. Orang yang berpindah ke tempat baru biasanya akan berhadapan dengan banyak tantangan yang lebih besar yang pada tingkat tertentu akan memberikan suasana tidak nyaman, setidaknya pada masa awal perpindahannya. Namun jika mereka berhasil merespon tantangan tersebut dengan baik, maka mereka akan muncul sebagai manusia dan masyarakat yang lebih baik dari sebelumnya.

Ketika berpindah ke tempat yang baru, mereka biasanya akan menghadapi iklim dan suasana geografis yang berbeda, berhadapan dengan komunitas dengan budaya dan tradisi yang berbeda. Hal ini tentu saja akan menimbulkan rasa tidak nyaman. Tetapi pada saat yang sama tempat yang baru juga menyajikan berbagai tantangan dan peluang yang mungkin tidak mereka dapati di tempat sebelumnya. Rasa tidak nyaman dan berbagai tantangan yang ada di tempat yang baru pada gilirannya akan mendorong seseorang untuk keluar dari sifat ’santai’ (idle) kepada karakter yang lebih gesit dan cekatan dalam memberikan respon. Kadang perpindahan ke tempat yang baru, ketika tidak diikuti dengan integrasi dengan masyarakat setempat, juga menciptakan rasa keterasingan (alienasi) yang jika direspon secara tepat akan mendorong seseorang untuk bersikap kompetitif dan sanggup bersaing dengan kelompok masyarakat di sekitarnya. Sebaliknya, jika terjadi proses integrasi yang baik, seperti pada kasus kaum Muhajirin dan Anshar, maka akan memunculkan semangat untuk saling tolong menolong dan saling menguatkan di antara para pendatang dan penduduk yang menerima mereka.

Hal-hal inilah yang menjadikan kaum migran biasanya lebih agresif, lebih gesit, dan lebih cekatan dalam menangkap peluang yang ada di tempat yang baru. Tantangan dan rasa kurang nyaman menyebabkan mereka harus selalu sigap dan mampu untuk mengubah berbagai kesulitan menjadi keuntungan di masa depan. Tetapi jika kaum migran ini tidak memiliki visi yang kuat dan segera tenggelam pada kenyamanan yang mungkin ditemukan di tempat yang baru, maka mereka tidak akan mampu merespon berbagai tantangan yang ada dan akan mengabaikan berbagai peluang yang lewat di depan mata mereka.

Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam dan para sahabat yang berhijrah ke Madinah juga sempat merasakan ketidaknyamanan di tempat yang baru (Madinah). Abu Bakar al-Shiddiq dan Bilal bin Rabah radhiyallahu ’anhuma sempat sakit demam pada hari-hari awal mereka di Madinah karena keadaan di kota tersebut yang lebih panas dan karena kerinduan mereka pada Mekah. Tapi berkat doa Nabi, maka semua ketidaknyamanan itu berhasil mereka lalui dengan baik. Kaum Muslimin yang berasal dari Mekah memang merasakan ujian yang berat menjelang mereka keluar dari kota Mekah. Tapi ketika mereka berhijrah ke Madinah, maka ujian dan tantangan yang mereka terima bukannya makin ringan. Mereka menghadapi suasana geografis yang berbeda dengan tempat tinggalnya dulu, mereka pindah ke Madinah dalam keadaan tidak memiliki harta, masyarakat Madinah pada awalnya juga bersifat majemuk dan rentan terhadap konflik. Selain itu, mereka juga menghadapi ancaman serangan dari luar. Namun, dibawah arahan Nabi shallallahu ’alaihi wasallam mereka berhasil menyikapi semua tantangan tersebut dengan tepat. Sehingga mereka pada akhirnya keluar sebagai pemenang.

Sebagaimana dijelaskan oleh Nabi shallallahu ’alaihi wasallam, sekarang ini sudah tidak ada lagi hijrah. Artinya, jika dulu kaum beriman diperintahkan bermigrasi dari Mekah ke Madinah dan mereka mendapat pahala untuk hijrahnya tersebut, maka setelah penaklukkan kota Mekah perpindahan semacam itu sudah tidak diperintahkan lagi. Hal ini agar orang tidak mengira bahwa migrasi merupakan hal yang wajib dalam agama, sehingga setiap manusia dari satu generasi ke generasi lain akan selalu melakukan hijrah kendati tuntutan untuk itu sama sekali tidak ada. Walaupun demikian, hal ini sama sekali tidak menafikan bahwa pada waktu-waktu tertentu ada sekelompok kaum Muslimin yang melakukan migrasi. Yang paling penting untuk mereka perhatikan dalam hal ini adalah niat yang baik dalam proses migrasi mereka serta kesiapan dan kegigihan mereka untuk berjuang di tempat yang baru. Dengan begitu, mereka akan mampu tampil ke muka sebagai problem solver bagi persoalan-persoalan yang ada.

Di samping hijrah secara fisik (migrasi), tentu saja masih ada hijrah dalam bentuk yang lain, yaitu hijrah secara maknawi. Hal ini telah banyak dijelaskan oleh para ulama dan pemikir Muslim kontemporer. Seorang Muslim juga perlu melakukan hijrah yang bersifat maknawi dalam kehidupannya ini, yaitu berpindah dari kekufuran pada keimanan, dari kejahilan kepada ilmu, dari akhlak yang buruk kepada akhlakul karimah.

Perpindahan yang bersifat maknawi ini juga akan melibatkan rasa tidak nyaman pada prosesnya. Seseorang mungkin merasa nyaman dengan perilaku maksiyat, akhlak yang buruk, serta kebiasaan jahil yang dimilikinya. Nyaman, karena semua itu sejalan dengan hawa nafsunya dan tidak memerlukan pengorbanan diri, walaupun konsekuensinya adalah hilangnya kenyamanan dalam bentuk yang lain. Orang yang tenggelam dalam hawa nafsunya pada akhirnya akan merasakan kekosongan jiwa dan hukuman yang berat di akhirat. Itu adalah bentuk ketidaknyamanan yang jauh lebih serius.

Sebaliknya, sebagian orang memaksa dirinya untuk berpindah kepada ilmu dengan belajar; kepada keimanan dengan terus mendekatkan diri pada Allah; pada akhlak karimah dengan selalu membiasakan diri dengan perilaku yang baik. Proses ini tentu melibatkan perasaan tidak nyaman, setidaknya pada awal prosesnya, karena semua itu menuntut pengorbanan. Perubahan dari keadaan yang tidak baik pada keadaan yang baik juga akan memberikan berbagai tantangan yang tidak mudah. Namun, pada akhirnya semua itu akan tergantikan dengan kenyamanan yang jauh lebih besar dan langgeng, yaitu kemuliaan diri dan ketenangan jiwa serta keridhaan Allah dan surga-Nya.

Semoga dengan tahun baru 1431 Hijriah ini kita bisa menguatkan komitmen kita, pada tingkat individu maupun masyarakat, untuk berhijrah menuju ke kedudukan yang lebih baik di sisi Allah. [Kuala Lumpur, 3 Muharram 1431/20 Desember 2009/www.hidayatullah.com]


Sabtu, 23 Januari 2010

Gadis Kecilku yang Sabar


Aisyah nama itu yang kami berikan saat dia lahir didunia ini. Saat ini telah menginjak usia 1 tahun 7 bulan. Saat usianya telah menginjak 1 tahun dia terkena sakit batuk yang setelah dua minggu tak kunjung sembuh meski telah di obati bahkan dia mulai sesak napas, dan ternyata dokter mengatakan dia terkena asma.

Saat itu kami sebagai orang tuanya sebenarnya kaget dan juga pahit mendengar diagnosa dokter, tapi matanya yang tajam menatap kami seolah menguatkan hati dengan mengatakan “ ini masih belum kiamat, doakan aku untuk kuat dan sabar menerima semua ini ”. dia tidak pernah mengeluh, bahkan saat sakitpun dan dalam keadaan dia susah bernafas juga tidak ada keluh kesah. menangispun tidak asal dia bisa tidur juga istirahat. Seolah segala tingkah lakunya dan tatapan matanya mengatakan “ tegarlah dalam menerima semua ini”, karena dia tetap lincah dan aktif.

Kadang saat dia batuk dan susah bernafas sepertinya dia bertanya ” apakah ini yang umi rasakan dulu?”

Memang saya dulu pernah mengidap asma karena kemasukan air ketuban saat lahir. Dan saat ini telah sembuh. Saya ingat betul bagaimana sakitnya tidak bisa bernafas , bagaimana susahnya melakukan sesuatu dengan kondisi susah bernafas, dan bagaimana indahnya kesehatan saat kita bisa merasakan rongga dada kita dapat merasakan kelegaan nafas. Subhanallah! Maha suci Allah...Sungguh nikmat Allah itu sangat luar biasa nikmatnya dan indahnya...

Saya kasihan melihat dia yang hampir setiap minggu kedokter atau paling tidak sebulan sekali. Berat badan susah naik, meski makan normal dan vitamin terus diberikan tapi penyakit itu yang telah menggerogoti tubuhnya yang masih kecil itu. Setiap orang yang bertemu pasti berkomentar. Aisyah makin kurus ya? Aisyah sakit –sakitan ya? Aisyah makanannya gak dikasih makanan yang bergizi ya? Dan banyak lagi komentar yang kadang kalau hati kita tak kuat ingin sekali aku menangis, pedih, perih yang kurasa. Dan mereka hanya bisa mengatakan seperti itu. Mereka tak akan pernah paham dan mengerti kalau mereka belum pernah merasakan dan tahu bagaimana mahalnya pernafasan itu.

Yaa Allah... betapa perih, sakit hati ini bila tak sadari kalau sebenarnya ini adalah tanda cintaMu, betapa aku tidak terima kalau tidak ingat ini adalah jalan untuk kami menggapai rahmatMu. Betapa aku ingin berontak untuk menolak semua ini kalau tidak ingat ini adalah pemberian terindah dariMu. “Allah masih bersamaku kah Engkau saat ini?”

Sudah pernah kurasakan dulu mulai aku kecil, bukan hanya rasa sakit dari penyakit ini tapi juga sakitnya disisihkan oleh teman sendiri dan mereka juga manusia. Saya dulu juga merasakan bagaimana mereka menjauh saat penyakit itu ada dalam tubuh saya, mereka menjauh saat saya tidak bisa sepadan dengan mereka dalam hal materi karena uang saya habis untuk berobat bukan untuk beli mainan atau baju yang sama mahalnya dengan mereka. Saya juga tidak dapat merasakan makanan yang anak – anak lain bisa makan. Pernah samapi ada yang mengatakan “ masak uang 3500 rupiah saja tidak punya untuk bayar sekolah bulan ini?” karena masa itu saya habis perawatan keluar kota, dan guru saya itu tidak mau terima dengan alasan yang saya berikan. Pernah juga disuatu acara saya tidak diajak main teman – teman, karena saya tak memakai baju yang sebagus mereka. Banyak sebenarnya kepedihan kalau mau diuraikan. Saya juga manusia biasa yang bisa mengeluh dan kadang tidak sabar.

Tapi itu untungnya cuma manusia yang menjauh dari saya, bukan Allah!!!

Allah dengar doaku, doa ibu dan juga orang terdekat. Allah berikan sakit itu untuk mengajakku dekat dan semakin mendekat padaNya, dalam balutan kasih dan cintaNya.

Saat ini setelah semua terjadi dan semua telah kumengerti. Ucapan kata yang patut ku ucapkan adalah “Terima kasih ya Allah, ke Agungan hanya milikMu, kecintaan yang paling besar hanya dariMu, meski semua orang memandang kami hina.”

Kesenangan, atau ketidak senangan dalam hidup ini adalah karuniaNya. Allah sayang kepada kita, dan semua yang diberikanNya adalah pemberian yang harus disyukuri dan dinikmati dengan kesabaran dan keikhlasan.

Allah memang pemilik cinta yang sebenarnya, dan Dialah yang punya skenario atas semuanya. Dan Allah punya hikmah terbesar dan terindah. Tidak semua orang bisa merasakan dan menikmati tanda cintaNya.

“Ya Allah tidaklah aku terima semua karunia dari Mu hari ini atau yang melalui hambaMu, kecuali bahwa itu hanya dari Engkau semata, tiada sekutu bagiMu dan segala ucapan terima kasih itu hanya milikMu. ”

“ ya Allah sungguh diri kami ada dalam genggamanmu, kuatkan kesabaran kami dan kuatkan kami dalam menerima semua ini. Dan jangan jadikan kesedihan dan kesenangan ini sebagai alat bagi kami untuk jauh dan menghindar dariMu. dariMu dan kepadaMu kami kembali. Tidak ada yang kami harapkan selain rahmat dariMu, masukkanlah kami kedalam surgaMu bersama orang – orang yang sabar”

Wahai anakku kesabaranmu yang buat kami kuat saat ini...

Wahai gadis kecilku ajarkan kepada kami arti sabar dan ikhlas....

Wahai gadis keciku semoga Allah jadikanmu permata dalam surgaNya kelak...

Sungguh Engkaulah ya Robb yang telah menjadikan semua ini...


Penebang Pohon




Seorang penebang mengasah kapaknya untuk mengumpulkan kayu. Seorang pemburu mengasah pisau dan mengencangkan busur. Seorang penulis meraut pensil. Mereka semua harus memperbarui peralatannya. Mereka itu adalah anda dan saya. Ini adalah prinsip sederhana tentang produktivitas. Tentu, tidak akan banyak pohon yang bisa ditebang oleh kapak yang telah tumpul dan aus. Tidak akan ada buruan yang mampu ditaklukkan oleh busur yang telah renta. Tidak ada sebuah kata bisa tertulis dari pensil yang patah. Maka, apa yang harus kita asah agar tetap meraih kehidupan pribadi dan karier yang penuh dan berlimpah?Anda memiliki sesosok tubuh yang pasti renta terkikis usia. Juga kecerdasan
yang segera tak banyak berarti tertinggal kemajuan jaman. Serta sekepal hati
nurani yang mudah diburamkan oleh debu-debu dunia. Maka tiada yang patut kita rawat selain tubuh agar senantiasa menjadi rumah yang nyaman bagi jiwa. Tiada yang perlu kita asah selain pikiran dan ketrampilan agar selalu dapat digunakan untuk membuka pintu kemakmuran. Serta, tiada yang harus kita pertajam selain hati nurani yang memungkinkan kita mendengar nyanyian kebahagiaan hidup ini.


Pemancing Cilik

Pada tepian sebuah sungai, tampak seorang anak kecil sedang bersenang-senang. Ia bermain air yang bening di sana. Sesekali tangannya dicelupkan ke dalam sungai yang sejuk. Si anak terlihat sangat menikmati permainannya.

Selain asyik bermain, si anak juga sering memerhatikan seorang paman tua yang hampir setiap hari datang ke sungai untuk memancing. Setiap kali bermain di sungai, setiap kali pula ia selalu melihat sang paman asyik mengulurkan pancingnya. Kadang, tangkapannya hanya sedikit. Tetapi, tidak jarang juga ikan yang didapat banyak jumlahnya.

Suatu sore, saat sang paman bersiap-siap hendak pulang dengan ikan hasil tangkapan yang hampir memenuhi keranjangnya, si anak mencoba mendekat. Ia menyapa sang paman sambil tersenyum senang. Melihat si anak mendekatinya, sang paman menyapa duluan. "Hai Nak, kamu mau ikan? Pilih saja sesukamu dan ambillah beberapa ekor. Bawa pulang dan minta ibumu untuk memasaknya sebagai lauk makan malam nanti," kata si paman ramah.

"Tidak, terima kasih Paman," jawab si anak.

"Lo, paman perhatikan, kamu hampir setiap hari bermain di sini sambil melihat paman memancing. Sekarang ada ikan yang paman tawarkan kepadamu, kenapa engkau tolak?"

"Saya senang memerhatikan Paman memancing, karena saya ingin bisa memancing seperti Paman. Apakah Paman mau mengajari saya bagaimana caranya memancing?" tanya si anak penuh harap.

"Wah wah wah. Ternyata kamu anak yang pintar. Dengan belajar memancing engkau bisa mendapatkan ikan sebanyak yang kamu mau di sungai ini. Baiklah. Karena kamu tidak mau ikannya, paman beri kamu alat pancing ini. Besok kita mulai pelajaran memancingnya, ya?"

Keesokan harinya, si bocah dengan bersemangat kembali ke tepi sungai untuk belajar memancing bersama sang paman. Mereka memasang umpan, melempar tali kail ke sungai, menunggu dengan sabar, dan hup... kail pun tenggelam ke sungai dengan umpan yang menarik ikan-ikan untuk memakannya. Sesaat, umpan terlihat bergoyang-goyang didekati kerumunan ikan. Saat itulah, ketika ada ikan yang memakan umpan, sang paman dan anak tadi segera bergegas menarik tongkat kail dengan ikan hasil tangkapan berada diujungnya.

Begitu seterusnya. Setiap kali berhasil menarik ikan, mereka kemudian melemparkan kembali kail yang telah diberi umpan. Memasangnya kembali, melemparkan ke sungai, menunggu dimakan ikan, melepaskan mata kail dari mulut ikan, hingga sore hari tiba.

Ketika menjelang pulang, si anak yang menikmati hari memancingnya bersama sang paman bertanya, "Paman, belajar memancing ikan hanya begini saja atau masih ada jurus yang lain?"

Mendengar pertanyaan tersebut, sang paman tersenyum bijak. "Benar anakku, kegiatan memancing ya hanya begini saja. Yang perlu kamu latih adalah kesabaran dan ketekunan menjalaninya. Kemudian fokus pada tujuan dan konsentrasilah pada apa yang sedang kamu kerjakan. Belajar memancing sama dengan belajar di kehidupan ini, setiap hari mengulang hal yang sama. Tetapi tentunya yang diulang harus hal-hal yang baik. Sabar, tekun, fokus pada tujuan dan konsentrasi pada apa yang sedang kamu kerjakan, maka apa yang menjadi tujuanmu bisa tercapai."


Senin, 18 Januari 2010

Martin Lings, Hidayah Allah untuk Sang Penyair

Menyebut nama Abu Bakr Siraj Ad-Din, mungkin tak banyak orang yang mengenalnya. Ketika disebut nama Martin Lings, tentu hanya sebagian umat Islam yang mengetahuinya. Namun, bagi kebanyakan pelajar, peneliti, dan tokoh muslim, nama Martin Lings sangat populer. Karena, tulisan dan karya-karyanya mampu memberi inspirasi banyak orang dalam mempelajari Islam. Padahal, sang penulis dulunya seorang pemeluk Kristen yang taat. Berkat hidayah Allah, ia pun memeluk Islam dan menjadi mualaf.
Salah satu karyanya yang sangat fenomenal berjudul Muhammad, Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik (Muhammad: His Life Based On The Earliest Sources), diterbitkan tahun 1983. Buku yang berisikan biografi Rasulullah SAW ini didedikasikan untuk pemimpin Pakistan, Zia ul-Haq.

Dengan gaya narasi (bertutur) yang halus dan mudah dipahami, Martin Lings mampu menghadirkan sebuah riwayat hidup dan perjalanan seorang tokoh inspiratif bagi dunia, yakni Nabi Muhammad SAW. Ia menulisnya dengan sangat detail dan mengagumkan.

Oleh banyak kalangan, buku ini dinilai sebagai salah satu buku biografi Rasulullah SAW yang terbaik dan pernah diterbitkan. Tentunya, hanya seseorang yang berkemampuan istimewa yang bisa menghasilkan sebuah buku yang berkualitas dan menyentuh. Itulah yang dilakukan Martin Lings karena kecintaannya pada Sang Uswatun Hasanah, Nabi Muhammad SAW.

Banyak sudah pembaca yang memuji karya cendekiawan Inggris ini. Orang menyebutnya tour de force, karya nan tiada bandingannya. Ditulis dari perspektif seorang cendekiawan-sejarawan yang juga mempraktikkan Islam dalam keseharian, buku tersebut cepat terkenal dan menjadi salah satu bacaan wajib mengenai kehidupan Nabi Muhammad SAW. Buku ini sudah diterjemahkan ke dalam 10 bahasa serta memperoleh sejumlah penghargaan dari dunia Islam.

Profesor Hamid Dabashi dari Columbia University mengungkapkan kekagumannya. ''Ketika membaca buku Muhammad karya Lings, kita akan bisa merasakan semacam efek kimia pada narasi dan komposisi bahasa yang terkombinasi dengan keakuratan serta gairah syair. Lings adalah cendekiawan-penyair,'' katanya.

Selain buku di atas, nama Martin Lings juga banyak dikenal dari berbagai karya-karyanya yang lain. Di antaranya adalah terjemahan teks Islam, puisi, seni, dan filsafat. Dari tulisan-tulisannya itu, Lings kerap disejajarkan dengan peneliti seni berkebangsaan Swiss-Jerman, Titus Burckhardt; tokoh filsuf abadi dan metafisikawan Prancis, Rene Guenon; serta cendekiawan Jerman, Fritjhof Schuon. Martin Lings sangat identik dengan seorang sufi yang gigih dalam menyebarkan Islam di Barat melalui tulisan-tulisan dan artikel-artikelnya yang tajam dan kritis.

Namun, hal yang paling berkesan dari Lings adalah keterkaitan karya dengan jiwa ihsan (keindahan dan kecemerlangan) yang dimilikinya. Ia mencurahkan jiwa dan hatinya dalam menghasilkan sebuah karya yang inspiratif, jelas, dan berkualitas.

Kini, sang tokoh sudah tiada. Pada 12 Mei 2005 lalu, Lings mengembuskan nafas terakhir dalam usia 96 tahun di kediamannya di kawasan Westerham, Kent County, Inggris. Umat Islam di seluruh dunia pun berkabung atas wafatnya penyair sufi modern terkemuka ini.

Berasal dari keluarga pemeluk Kristen Protestan, Lings lahir di Burnage, Lancashire, Inggris, pada 24 Januari 1909. Meski begitu, dia menghabiskan masa kecilnya di Amerika Serikat, mengikuti ayahnya. Ketika keluarganya kembali ke Inggris, dia didaftarkan ke Clifton College, Bristol. Kemudian, Lings melanjutkan pendidikannya di Magdalen College, Oxford. Ia belajar literatur Inggris dan memperoleh gelar BA tahun 1932. Tahun 1935, dia memutuskan pergi ke Lithuania untuk menjadi pengajar studi Anglo-Saxon dan Inggris Tengah di Universitas Kaunas.

Mengenal Islam
Pada tahun 1939, Lings datang ke Mesir mengunjungi seorang teman dekatnya yang kebetulan mengajar di Universitas Kairo. Temannya ini juga merupakan asisten filsuf Prancis, Rene Guenon. Akan tetapi, pada saat kunjungannya itu, sang teman meninggal dalam sebuah kecelakaan lalu lintas. Kemudian, Lings diminta untuk mengisi posisi yang ditinggalkan oleh temannya ini. Dia menerima tawaran tersebut.

Lings pun mulai aktif belajar bahasa Arab dan mempelajari Islam. Setelah banyak berhubungan dengan ajaran Sufi Sadzililiyah, dia berketetapan hati untuk masuk Islam. Sejak saat itu, ia menjadi pribadi baru dengan nama Abu Bakr Siraj Ad-Din.

Bagi Lings, Islam bukan hanya sekadar agama. Islam menjadi petunjuk hidup umat manusia. Ia sangat terkesan dengan Alquran dan pribadi Rasulullah SAW. Baginya, tak ada tokoh yang melebihi Nabi Muhammad SAW, baik dalam akhlak maupun kepribadiannya dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, bukunya yang berjudul Muhammad, Kisah Hidup Nabi merupakan salah satu bukti kecintaannya kepada Rasulullah SAW.

Komitmennya dalam Islam terbawa sepanjang hayat. Bahkan, sepuluh hari sebelum meninggal dunia, Lings masih sempat menjadi pembicara di depan tiga ribu pengunjung pada acara Maulid Nabi Muhammad SAW yang bertajuk Bersatu untuk Sang Nabi yang diadakan di Wembley, Inggris. Lings mengatakan, itu adalah pertama kalinya dia berbicara mengenai makna kehidupan Nabi Muhammad SAW dalam waktu 40 tahun.

Setelah masuk Islam, Lings makin dekat dengan Rene Guenon yang juga sudah memeluk Islam. Dia lantas menjadi asisten pribadi serta penasihat spiritual Guenon.

Pada saat tinggal di Mesir, ia menikah dengan Lesley Smalley. Keduanya lantas tinggal di sebuah kamp pengungsi di dekat piramid. Namun, ketika revolusi anti-Inggris oleh kaum nasionalis yang berujung pada kerusuhan melanda Mesir, Lings memutuskan kembali ke Inggris pada 1952.

Sekembali dari negara di kawasan Afrika ini, ia melanjutkan pendidikan ke School of Oriental and African Studies, London, hingga mendapat gelar doktor. Tesisnya mengenai seorang sufi terkenal asal Ajazair, Ahmad al-Alawi, yang kemudian ia terbitkan menjadi sebuah buku dengan judul A Sufi Saint of the Twentieth Century. Sementara itu, sang istri yang berprofesi sebagai psikoterapis bekerja sesuai bidangnya itu.

Kemudian, tahun 1955, dia bekerja sebagai asisten ahli naskah kuno dari kawasan Timur pada British Museum. Pekerjaan itu dilakoninya hingga hampir dua dasawarsa.

Tahun 1973, Lings merangkap kerja di British Library, di mana dia memfokuskan perhatiannya terhadap kaligrafi Alquran. Beberapa tahun kemudian, dia memublikasikan karya klasiknya pada subjek yang sama, yaitu The Qur'anic Art Of Calligraphy And Illumination, bertepatan dengan penyelenggaraan Festival Dunia Islam tahun 1976.

Sejak itu, Lings pun mulai menulis secara teratur. Karya-karyanya, selain sufisme dan buku-buku lainnya, meliputi artikel mengenai tasawuf pada terbitan Cambridge University, Religion in the Middle East dan The Eleventh Hour: The Spiritual Crisis of the Modern World in the Light of Tradition and Prophecy, serta banyak artikel untuk jurnal kuartalan, Studies in Comparative Religion. Jurnal itu turut andil dalam memperluas cakrawala dunia Barat dalam memahami ketinggian Islam.

Pengagum Shakespeare
Selain berkutat dalam bidang filsafat, Lings juga berkiprah di bidang seni. Kiprah awalnya di bidang seni dimulai pada tahun 1944 dengan memproduksi sandiwara Shakespeare. Para pemainnya tak lain adalah para muridnya sendiri.

Ia memang senang mempelajari karya-karya pujangga itu. Ketertarikannya pada karya-karya Shakespeare lantas membawanya, sekitar 40 tahun kemudian, membuat buku berjudul The Sacred Art of Shakespeare: To Take Upon Us the Mystery of Things. Sebagai bentuk penghargaan terhadap karya-karya Lings, Putra Mahkota Kerajaan Inggris Pangeran Charles pun bersedia memberikan kata pengantar dalam buku ini.

Dalam kata pengantarnya, Pangeran Charles menulis, ''Kejeniusan khusus yang dimiliki Lings terletak pada kemampuannya untuk menyampaikan, seperti yang tidak pernah dilakukan orang lain sebelumnya. Teks-teks dasar yang ia sajikan dalam karya teater ini telah meninggalkan kesan yang mendalam, tidak hanya kepada para pecinta karya seni, tetapi juga kepada para pembaca awam.'' nidia zuraya


Minggu, 17 Januari 2010

Si Anak dan Persegi


Di suatu senja, duduklah seorang ibu yang sedang membantu anak-anaknya mengulang-ulang pelajaran mereka. Sang ibu memberi putra kecilnya yang berusia 4 tahun sebuah buku gambar agar tidak mengganggunya dalam memberikan keterangan terhadap pelajaran saudara-saudaranya yang lain.

Tiba-tiba sang ibu teringat bahwa dia belum menghadirkan makan malam untuk ayah suaminya (mertuanya), seorang yang sudah lanjut, dan hidup bersama mereka di sebuah kamar di luar bangunan rumah, yaitu di pelataran rumah. Adalah sang ibu melayaninya sesuai dengan kemampuannya, dan sang suami ridha dengan pelayanan terhadap ayahnya yang tidak meninggalkan kamarnya karena kesehatannya yang lemah.

Sang ibupun cepat-cepat memberi sang mertua makanan. Dan bertanya kepadanya, apakah sang ayah membutuhkan pelayanan lain, lalu dia pergi meninggalkannya.

Saat dia kembali ke tempatnya bersama dengan putra-putranya, dia memperhatikan bahwa anak bungsunya tengah menggambar lingkaran dan persegi. Dan meletakkan di dalam lingkaran dan persegi tersebut simbol-simbol. Maka sang ibupun bertanya: Apa yang kamu gambar?

Dia menjawab dengan penuh kecerdasan: "Sesungguhnya aku tengah menggambar rumahku yang nanti aku akan tinggal di dalamnya saat aku dewasa dan menikah."

Jawaban si anak menggembirakan sang ibu. Lalu sang ibu bertanya: Di mana engkau akan tidur?" Si anakpun memperlihatkan kepada sang ibu setiap persegi dan berkata: "ini adalah kamar tidur....ini dapur ... ini ruang tamu.." Dia menghitung-hitung apa saja yang dia ketahui dari ruang ruang di rumah.

Lantas dia meninggalkan satu kotak persegi yang sendirian di luar daerah yang telah dia gambar yang mencakup keseluruhan kamar.

Sang ibu pun terheran, dan berkata: "Lalu mengapa kamar ini ada di luar rumah? Terpisah dari kamar kamar yang lain?

Si anak menjawab: "Kamar tersebut untuk ibu, aku akan meletakkan ibu di sana, ibu akan hidup di sana sendirian sebagaimana kakekku yang sudah tua."
Sang ibupun terkejut dengan apa yang dikatakan oleh putranya!!!
"Apakah aku akan sendirian di luar rumah di pelataran rumah tanpa bisa bersenang-senang dengan berbicara bersama anak-anakku? Aku tidak bisa berbahagia dengan ucapan ucapan mereka, kebahagiaan mereka,dan permainan mereka saat aku lemah, tidak mampu menggerakkan tubuh? Siapa yang aku ajak bicara saat itu? Apakah aku akan menghabiskan sisa umurku sendirian di antara empat dinding tanpa bisa mendengar suara anggota keluargaku??

Maka sang ibu cepat-cepat memanggil pembantu, kemudian dengan cepat memindah perabotan ruang tamu yang biasanya merupakan ruang yang paling baik, kemudian menghadirkan ranjang ayah suaminya, lalu memindah perabotan ruang tamu ke dalam kamar sang kakek di pelataran rumah.

Di saat sang suami pulang, dia terperanjat dengan apa yang dia lihat, dan takjub, lalu bertanya apa penyebab perubahan ini?

Sang istri menjawab dengan air mata yang berlinangan di kedua matanya: "Sesungguhnya aku memilih ruang yang paling indah untuk kita hidup didalamnya jika Allah memberikan kepada kita umur sampai usia lanjut yang lemah untuk bergerak. Dan biarlah tamu berada di ruang luar di pelataran rumah."

Sang suamipun faham apa yang dimaksud oleh sang istri, lalu memuji perbuatannya terhadap ayahnya yang tengah melihat kepada mereka dengan senyuman dan pandangan mata keridhaan. Sementara sang anak... dia menghapus gambarnya... dan tersenyum.

Terpikat Suara Azan, Tatiana Pilih Islam

Gadis asal Slowakia itu terbuka hatinya kepada Islam selepas mendengar suara azan kala berkunjung ke Kairo, Mesir. “Ketika mendengar suara azan, jujur saja, saya merasakan getaran-getaran aneh dalam hati. Ketika itu saya seakan terhipnotis dan tak mendengar suara lain kecuali suara yang berkumandang melalui menara masjid itu,” akunya. Sekembalinya ke Slowakia dia memperdalam Islam dengan dibantu Muslimah di sana. Bahkan internet juga sangat membantunya dalam mengenal Islam. Alhasil, dia pun memeluk Islam dan kini menjalani hari-hari yang dikatakannya sebagai begitu indah dan nikmat terasa. Itulah Tatiana Fatimah, yang kami rangkum dari beberapa situs.

“Sejuta kata-kata tak cukup untuk mengekspresikan bagaimana kecintaan saya kepada Allah. Inilah yang saya rasakan saat ini. Islam ibarat darah yang mengalir di sekujur tubuh hingga ke ujung jari saya. Ketika bercakap-cakap dengan Allah di dalam shalat, sangat indah,” kata Tatiana.

“Saya berterima kasih kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala atas hadiah yang sangat berharga ini, yakni menjadikan saya sebagai seorang Muslim. Sepanjang hidup kini hanya untuk memuji dan mensyukuri nikmat-Nya,” kata dia lagi.

Suka traveling

Sebelum seperti sekarang, perjalanan Tatiana menuju Islam cukup sederhana dan tidak melewati jalan yang rumit. Kadang dia mengaku sering tersenyum sendiri jika ingat perkenalan pertamanya dengan Islam. “Traveling adalah kesukaan saya. Kami sering bepergian sekeluarga dengan berkunjung ke berbagai negara. Negara-negara Muslim telah banyak pula jadi tempat liburan kami,“ akunya.

“Mesir merupakan negara terakhir yang pernah kami kunjungi. Budaya dan segala rupa keunikan masyarakatnya sangat berkesan di hati,“ kenangnya. Di sana pula pertama kali Tatiana bersentuhan secara dekat dengan masjid. Namun waktu ke sana dia belum sempat masuk ke dalamnya. “Waktu itu saya mengira, karena bukan Muslim, dilarang masuk ke dalam masjid,“ katanya.

“Tapi jujur saya katakan, ketika mendengar suara azan, saya merasakan getaran-getaran aneh dalam hati,“ aku dia. Ketika itu Tatiana seakan terhipnotis dan tak mendengar suara lain kecuali suara yang berkumandang melalui menara mesjid. Dia benar-benar terpikat dengan suara azan. “Yang lebih berkesan lagi adalah tatkala melihat orang-orang yang berkumpul di dalam masjid, penuh dengan kesan kesatuan dan kasih sayang dikala mendirikan shalat. Hal itu hingga kini masih sangat berbekas dalam ingatan saya,“ katanya lagi.
Tertarik bahasa Arab

“Oya saat itu saya tidak banyak tahu tentang Islam. Sama sekali nol. Berbanding terbalik dengan apa yang telah saya ketahui hari ini,“ kata dia. Tatiana masih ingat, waktu ketika kembali dari Kairo, dia sangat tertarik sekali belajar bahasa Arab. “Secara tiba-tiba bahasa Arab menjadi salah satu bahasa yang paling indah di dunia,“ tukasnya. Sayangnya di kota tempat Tatiana tinggal tidak ada kursus yang menyelenggarakan bahasa Arab. Kala itu cuma ada bahasa Inggris dan Jerman.

Pernah pihak sekolah berencana membuka kelas bahasa Arab. Tapi dibatalkan. “Waktu itu mau masuk puasa Ramadhan. Rupanya sang guru yang berasal dari Arab, mau pulang liburan ke kampung halamannya. Makanya dibatalkan. Tentu saja saya kecewa berat,“ sambung Tatiana.

Beberapa lama dia vakum dari mempelajari bahasa Arab. Namun dia mengaku memang sangat “haus” untuk mempelajari Islam dan bahasa Arab secara lebih mendalam. “Tak lama saya mulai belajar Islam lagi, secara perlahan. Mulai dari awal sekali. Belajar melalui internet. Berbagai website tentang Islam saya telusuri. Begitu juga semua chanel di TV yang menyajikan acara tentang Islam dan Muslim tak pernah saya lewati,” tuturnya. Dia juga ikut sebuah forum khusus untuk wanita via internet. Ya melalui internet Tatiana banyak belajar Islam.

Ikut kelas Al-Quran

Ada juga beberapa warga Muslim Slowakia yang membantunya dalam memahami Islam. Pernah satu ketika seorang Muslimah asal Kosice memberitahukan akan ada kelas bahasa Arab dan Alquran. Kosice merupakan sebuah region di Slowakia yang memiliki luas wilayah 6.753 km² dan populasi penduduk 766.012 jiwa. “Muslimah itu cukup saya kenal wajahnya sebab sering tampil di acara talk show menceritakan tentang Islam dan Muslim,” kenangnya.

“Saya tentu saja tak menyia-nyiakan kesempatan itu dan segera mengirim email kepadanya memberitahukan keikutsertaan saya. Kami ketemu sepekan kemudian. Bukan main. Orangnya sangat ramah dan santun sekali. Wajahnya memancarkan kedamaian,” aku Tatiana lagi.

Satu sifat Tatiana, yakni dia selalu berprasangka baik terhadap orang lain. Jadi tak sulit baginya untuk belajar sesuatu yang baru. Tak ada rasa takut tentang disebut teroris, misalnya. “Saya belajar dari siapa saja. Saya hadir bersama rekan Muslimah tersebut ke kelas bahasa Arab. Tak berapa lama saya punya banyak kenalan baru. Saya hadir secara rutin dan sangat menikmati kelas Alquran,” katanya. Ketika itu dia belum masuk Islam lagi, namun tak menghalanginya untuk belajar Quran. Semua yang ada di kelas sangat respek dan membantu setiap kesulitan yang dihadapinya.

Selepas beberapa bulan kemudian kelas bahasa Arab berakhir. Tapi keakraban di antara mereka telah terjalin begitu kental. “Kami sering bertemu. Bahkan sering kami diskusi berjam-jam lamanya. Bagi saya hal itu sangat membantu untuk mengenal kehidupan Islam lebih dalam,” imbuh dia.

Waktu itu Tatiana masih ragu-ragu, antara masuk Islam dan tidak. “Saya masih menghadapi dilema soal itu. Tapi batin saya mengatakan itu bukan hal krusial. Yang paling penting sekarang adalah belajar mengenal dan mencintai Tuhan (Allah).

Saya bertanya kepada kawan-kawan Muslimah lainnya, kapan waktu yang tepat (untuk masuk Islam). Mereka secara diplomatis menjawab bahwa tanda itu nanti akan datang dengan sendirinya. Mereka menyebutnya dengan hidayah Allah.”

Keluarga Tatiana berlatar belakang Kristen Katolik. Namun dia mengaku tak ada seorang pun yang membimbingnya belajar agama. Praktis sejak kecil dia tak menganut agama apapun. “Ibu memberikan kebebasan bagi saya untuk memilih keyakinan. Dia tak memaksa. Semua terserah saya. Keluarga saya bahkan tak pernah pergi ke gereja,” katanya berterus terang. Namun Tatiana mengaku, di antara anggota keluarga yang lain dialah yang lebih “alim”. “Saya merasa Tuhan itu ada dan dekat sekali.”

Waktu berlalu dan semuanya berjalan biasa saja, tak ada kejutan yang berarti. Setiap hari Tatiana berdoa supaya Tuhan beri petunjuk kepadanya untuk jadi seorang Muslim.

Debar aneh

Pas musim panas Tatiana menghabiskan waktu liburannya di rumah nenek. Selepas liburan dan kembali ke rumah dia merasakan sesuatu yang lain dalam hati. Sesuatu yang amat “spesial“ itu hadir secara tiba-tiba. Spontan Tatiana teringat dengan kata-kata teman Muslimahnya:”Satu saat kamu akan dapatkan petunjuk dari-Nya.“

“Entah mengapa saya persis seorang anak kecil yang baru mendapatkan sesuatu. Mendadak saya merasakan gairah yang hebat untuk segera menjadi seorang Muslim. Tuhan serasa membimbing saya,” aku dia. Tatiana benar-benar ingin segera dekat dengan Yang Kuasa.

Dia percaya kebenaran telah datang. Allah telah kirimkan kepadanya. Tekad Tatiana sudah bulat. Dia tidak ragu-ragu lagi untuk memeluk Islam. “Saya yakin pilihan saya benar adanya. Jika Anda tanya kenapa, saya tak mampu menjawabnya. Tapi saya yakin dengan sinyal ini,” tukas Tatiana.

Bersyahadah

Tatiana memberitahukan rekan Muslimah yang pertama kali membimbingnya. “Tak berapa lama saya pun bersyahadah. Rekan-rekan memeluk saya dengan penuh kasih sayang. Saya merasa seperti “orang baru” di dunia ini. Seperti dilahirkan kembali. Menurut Alquran semua dosa-dosa masa lalu dihapuskan. Seperti kain putih, tak ada noda lagi. Saya sudah siap untuk menjalani kehidupan baru ini,” kenangnya.

Pada awal keislaman, dia semakin banyak bertanya terutama hal-hal yang prinsipil dalam Islam. “Saya ingin tahu apa saja, dari nol. Jujur saja, keinginan untuk belajar sangat menggelegak ketika itu. Islam benar-benar telah “membangunkan” kehidupan baru bagi saya. Saya inginnya mendapat semua informasi, dari hukum-hukum hingga sejarah Islam dan bermaksud meneruskannya ke koleganya yang lain,” kata dia penuh obsesi.

“Contekan” shalat

“Oya usaha pertama saya untuk shalat sangat amatiran sekali. Tapi semuanya benar-benar keluar dari hati, bukan paksaan,” kenang dia. Ketika baru pertamakali belajar, dia menulis semua tatacara shalat di secarik kertas. Begitu juga dengan ayat Alquran, ditulisnya di secarik kertas. Jadi dia membaca “contekan“ di kertas tersebut sembari shalat. Bukan main. “Tahu tidak, sekitar tiga minggu kemudian saya sudah bisa mengerjakan shalat tanpa bantuan kertas itu lagi,” ujarnya senang.

“Saya selalu berdoa kepada Allah agar dimudahkan dalam belajar Islam,” tukasnya. “Islam agama yang sangat indah, “ kata dia lagi.

Di akhir penuturannya, dia berharap dapat terus dekat dengan Allah dan melakukan segala hal semata-mata karena perintah-Nya. “Menghindari larangannya, lalu memperlihatkan dan memberi contoh budi pekerti yang baik kepada orang lain. Hanya dengan cara itu kita bisa tunjukkan Islam yang sebenarnya,” tutupnya.
(Hidayatullah.com)